UMA SEMINYAK CREATIVE SPACE @WANTILAN

Hari Merdeka iconic painting for Uma Seminyak
Hari Merdeka iconic painting for Uma Seminyak

charcoal monster drawing workshop with M
charcoal monster drawing workshop with M

Community Event at the garden
Community Event at the garden

Hari Merdeka iconic painting for Uma Seminyak
Hari Merdeka iconic painting for Uma Seminyak

1/15

Wantilan Uma Seminyak adalah ruang kreatif di tengah komplek pertokoan Uma Seminyak yang membuka ruangnya untuk komunitas kreatif di Bali. Ragam program dan kegiatan kreatif diadakan dengan semangat komunitas, mulai dari pameran desain & seni, diskusi, lokakarya, pemutaran film, performance, hingga pop up market. Semangat kolaborasi lintas disiplin dan keinginan untuk tumbuh bersama adalah hal utama yang diusung dari ruang kreatif ini.

No upcoming events at the moment

Segi Tiga

Andre Yoga | Didin Jirot | Luhde Gita

writer: Vincent Chandra

organized by U Need Studio

Exhibition Period

27 Maret - 10 April 2021

 

Opening

Sabtu, 27 Maret 2021, jam 19.00 wita.

 

Artist Talk

Minggu, 4 April 2021, jam 15.00 wita

Andre Yoga, Didin Jirot, dan Luh Gede Gita Sangita Yasa merupakan salah tiga dari banyak perupa muda Bali yang sadar akan pentingnya merawat kesadaran eksistensial dalam medan sosial seni rupa. Secara tidak langsung kesadaran mereka makin terpupuk dalam-dalam lewat mengakrabi dunia seni rupa melalui jalur akademis—Andre di DKV ISI Denpasar, Didin di seni rupa ISI Yogyakarta, dan Luhde di seni rupa ITB—dibarengi oleh bertemunya mereka dengan iklim berkesenian yang hangat di lingkungan geografis mereka tinggal selama hijrah keluar untuk kepentingan proses perkuliahan.

 

Apabila diamati melalui rekam jejak karir kesenirupaan masing-masing, Andre Yoga tergolong sebagai yang cukup aktif terlibat dalam berbagai jenis skena serta gelaran pameran di Bali, sementara Didin dan Luhde yang belum lama baru pulang ke Bali mengaku harus beradaptasi dengan medan sosial seni rupa di tempat mereka lahir dan tumbuh. Sehingga tujuan awal atas diinisiasinya pameran “Segi—Tiga” oleh ketiga perupa muda ini, dapat segera terbaca oleh para penikmat secara sederhana sebagai upaya mereka dalam menghadirkan pembacaan yang lebih luas oleh publik khususnya di Bali terhadap karya-karya mereka. Selain diniatkan untuk melibatkan diri secara penuh dalam peta seni rupa Bali, pameran ini bagi mereka juga adalah sebentuk rasa optimisme untuk mengembangkan sayap mereka sebagai perupa muda kontemporer di Bali.

 

Dipilih sebagai judul pameran, kata Segi—Tiga sendiri bersifat cair dan bermaksud untuk membingkai secara utuh artikulasi khas ketiga perupa muda dengan pilihan bahasa rupa serta latar historis diri yang berbeda-beda. Segitiga dalam pengertiannya sebagai sebuah bangun datar, terbangun lewat tiga titik sudut yang antar satu sama lainnya dihubungkan oleh rusuk-rusuk berupa garis. Sifat-sifat tadi lalu diasosiasikan dalam konteks pameran ini. Sederhananya, tiga titik sudut mewakili tiga identitas peserta pameran, Andre, Didin, dan Luhde. Kemudian keterhubungan ketiga titik identitas ini terbaca melalui rusuk-rusuk yang berupa dorongan eksistensial, atau bahkan boleh jadi berupa perbedaan individu-individu dan keragaman budaya Bali itu sendiri.

Past Event

Artworks

Andre Yoga (Denpasar, 30 September 1994)

Pelukis dan ilustrator, Andre Yoga mendapatkan inspirasi dari observasi kehidupan sehari-harinya , baik yang membosankan ataupun yang luar biasa. Andre menuangkan inspirasi tersebut ke dalam karya-karyanya: sebuah mitologi era modern dengan cerita yang tak disangka. Sebagai sebuah kritik sosial, karyanya seringkali menggambarkan kisah tentang kekuasaan, wanita dan tahta. Sejak awal karirnya di tahun 2013, Andre telah menemukan gaya khas tersendiri. Ilustrasi Andre sangat detail dengan menggunakan teknik seperti dot works dan pointillism. Karyanya juga tidak terduga karena menggabungkan elemen-elemen gambar yang tidak biasa dan sentuhan gaya Bali - mengundang kita ke dunia tersendiri .

I Kadek Didin Junaedi (Bali, 19 Juni 1998)

Konsep berkarya Didin adalah dengan mengobservasi dan mengadopsi tradisi Bali dan mentranformasi ke dalam bentuk yang kontemporer. Bagi Didin, seni merupakan ritual dalam introspeksi diri dalam menemukan keyakinan serta menyampaikan pesan dari berbagai sudut pandang serta sesuatu yang metaforis.

Luh Gede Gita Sangita Yasa (Bali, 22 Juli 1997)

Secara kekaryaan pandemic merubah proses berkarya pelukis. Sebelumnya membahas tentang melihat bali sebagai rumah melalui fragmen-fragmen memori menggunakan komposisi jukstaposisi dengan subject matter pantai; sekaligus membahas mengenai realitas dan pos realitas yakni permainan the sims. Karya-karya pelukis mulai bergeser ke pengalaman saat pandemic, bagaimana saat pandemic pelukis diagnosa dengan, bipolar dan anxiety. Bagaimana permainan the sims menjadi pelarian. Pengalaman itu pelukis tuangkan ke dalam lukisan penulis meminjam logika simulasi kehidupan the sims pelukis membuat realitas-realitas penulis diatas kanvas.