Kepada Tanah; Hidup dan Masa Depan Wadas


Jejaring solidaritas Jogja berkolaborasi dengan 22 seniman dan warga Desa Wadas, menyelenggarakan

rangkaian pameran seni rupa di 6 kota;

8 - 15 Februari 2022 | Uma Seminyak, Bali

12 - 17 Februari 2022 | Galeri Raos, Batu

16 - 23 Februari 2022 | Matera Café, Semarang

18 - 25 Februari 2022 | Sunset Limited, Jakarta

22 - 29 Februari 2022 | Omuniuum, Bandung

18 - 28 Februari 2022 | Kedai Kebun Forum, Jogja



Pameran ini berupa karya dalam kemasan berisi roasted beans kopi robusta Desa Wadas. Para seniman melukis langsung karyanya pada kemasan bagian depan, dengan berbagai rupa dan warna. Sedangkan pada sisi belakang kemasan terdapat teks yang disablon, tentang keterangan singkat mengenai latar belakang kopi dan Desa Wadas.



Kopi Wadas, demikian kami menyebutnya, tumbuh di Desa Wadas, pada ketinggian 400-450 mdpl di sekitar punggung perbukitan Menoreh. Kopi ini dirawat, dipanen, dan diolah oleh warga Desa Wadas, dengan model penanaman tumpang sari (non monokultur) dan penggunaan pupuk kandang secara rutin (non sintetik). Model perawatan demikian telah dilakukan secara turun temurun oleh petani sejak ratusan tahun lalu. Namun, sejak lima tahun lalu, warga Desa Wadas, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo, terancam. Membuat kehidupan dan segala aktivitas warga di lahan, terganggu. Pasalnya, perbukitan di sekitar pemukimannya masuk dalam lokasi rencana penambangan untuk material Bendungan Bener.


Dalam dokumen AMDAL, penambangan untuk material Proyek Strategis Nasional (PSN) itu akan menggunakan metode blasting (peledakan) dinamit sebanyak 5.300 ton selama 30 bulan. Penambangan tersebut akan menjarah 15,53 juta meter kubik batuan andesit, pada lahan seluas 114 Ha dengan kedalaman 40 m. Warga menolak dan berupaya menggagalkan rencana tersebut melalui upaya-upaya legal; gugatan, audiensi, demonstrasi. Namun, semua upaya itu menemui jalan buntu. Sikap dan upaya warga bukan tanpa risiko. Berbagai rupa tipuan, intimidasi, hingga kekerasan langsung, telah dialami warga. Seperti yang terjadi dalam peristiwa 23 April 2021 di Desa Wadas.


Saat itu, Badan Pertanahan Nasional (BPN) memaksa melakukan pengukuran terhadap lahan warga dengan membawa ratusan aparat kepolisian. Pada waktu yang sama, warga berjaga di perbatasan desa. Sisanya adalah rangkaian kekerasan dan penangkapan oleh aparat terhadap warga, pendamping hukum, dan jaringan solidaritas. Hal tersebut malah membuat warga semakin meyakini telah mengambil sikap yang tepat: ruang hidup dan kehidupan harus dibela!


Rencana penambangan batuan andesit dan rangkaian kekerasan yang menyertainya, berbahaya bagi kehidupan warga Wadas dan ekosistem di sekitar bukit Menoreh. Sejarah, nilai, dan sumber penghidupan warga yang melekat pada tanah terancam runtuh jika pertambangan benar-benar beroperasi.Beragam potensi krisis tersebut, menjadi titik berangkat bagi kami bahwa; inisiatif berbagai bentuk dukungan dan perjuangan mesti dilakukan. Kami memilih pameran kopi “Kepada Tanah: Hidup dan Masa Depan Wadas”.




Keuntungan dari hasil pameran sepenuhnya akan diserahkan kepada warga untuk menopang perjuangannya. Dukungan ini tentu saja dapat memperpanjang dan memperluas nafas gerakan kepedulian atas keselamatan lingkungan. Selain itu, untuk memperluas jaringan solidaritas dan merajut titik antar konflik di berbagai daerah melalui diskusi dan konsolidasi. Kami meyakini bahwa Wadas bukan satu-satunya ruang hidup yang mengalami ancaman dan krisis, serta bukan satu-satunya yang berlawan atas upaya penjarahan, baik oleh pemerintah, korporasi, maupun gabungan dari keduanya.


Kami tidak menganggap ini akhir, bukan pula tujuan, melainkan salah satu upaya yang saat ini mampu kami lakukan. Dibutuhkan segala inisiatif dari seluruh elemen gerakan rakyat dengan corak, pola atau kekhasan perjuangan masing-masing.





Ikuti Instagram @kepadatanah untuk mengikuti update dari gerakan ini.


(gambar dan tulisan dari Siaran Pers yang dikeluarkan oleh panitia Kepada Tanah)

RECENT POSTS

ARCHIVE