Urup, New Beginning; Brighten




Pandemi dan rangkaian kejadian dalam lintasan dua tahun terakhir ini memaksa kita berhadapan dengan berbagai macam kemungkinan; mulai dari hal-hal yang tidak terprediksi, penyesuaian-penyesuaian yang berjalan mulus maupun yang belum, hingga kemampuan kita untuk merelakan ekspektasi-ekspektasi yang batal terlaksana. Dalam masa ini juga, kita cenderung punya lebih banyak waktu berinteraksi dengan banyak isu dan perdebatan yang terjadi di ruang-ruang digital pun ruang fisik.


Oleh karenanya, berbicara tentang hidup, kita tidak sedang berbicara tentang satu definisi tunggal. Ketika berbicara tentangnya, kita juga dituntut untuk merefleksikan lintasan dan spektrum tantangan yang dihadapi beragam identitas dan situasi manusia.; hal-hal yang selama ini mungkin luput dalam narasi ke-"aku"-an yang masif di-mainstream-kan dalam ceramah-ceramah, seolah-olah hidup-"ku" adalah template yang bisa semena-mena ditempelkan pada publiknya (tanpa mempertanyakan beragam bias yang mungkin hadir bersamanya).


Hidup, bagi sebagian orang, adalah sebuah upaya untuk bertahan dalam segala penyesuaian ekonomi, psikis, sosial, akademis, dll. Bagi sebagian yang lain adalah sebuah upaya terus menerus untuk memperjuangkan apa yang harusnya mereka miliki: hak untuk hidup, hak untuk lepas dari kekerasan seksual, hak untuk merawat kesehatan mental, dll. Bagi sebagian yang lain lagi, hanyalah rangkaian membosankan, bekerja-makan-konseling-menjalani hobi dan tak perlu dilabeli dengan macam-macam jargon. Hidup, pada akhirnya adalah upaya-upaya di masa kini yang konteksnya terbentuk dari ragam pengalaman di masa lalu dan bayangan tentang masa depan.


Pameran ini mengambil tema "Urup" atau nyala, sebuah kata sifat yang berakar dari filosofi Jawa, yang penggunaannya selalu lekat pada "Urip" atau hidup. Jika hidup melekat pada upaya-upaya masa kini, urup adalah rangkaian 'mencari-menemukan' untuk membuat upaya-upaya itu lebih bermakna. “Yang urup” bisa menjadi sangat komunal, tapi ia tidak menghilangkan kemungkinan-kemungkinan bahwa pengalaman personal juga bisa menjadi encouragement untuk orang lain.


12 (duabelas) seniman dalam pameran ini menginternalisasi pengalaman mereka dan memvisualkan apa yang membuat mereka merasa memiliki urup. Dengan beragam latar belakang dan praktik artistik, seniman-seniman ini akan juga membayangkan bagaimana menyelipkan ruang untuk mempertanyakan nyala dalam hidup di dua tahun terakhir yang ya-begitulah-ya-susah-susah-sedap.


Selain sebagai pameran visual tentang "yang urup", dengan workshop dan temu publiknya, pameran ini juga berupaya mengajak publik terlibat dalam rangkaian uji coba untuk membuat skena seni lebih urup. Pertemuan-pertemuan yang juga bisa dipakai untuk mencari jawaban atas "urupnya seni itu gimana dan untuk siapa?"


(Pengantar Pameran ditulis oleh Sidhi Vhisatya, praktisi seni berbasis di Bali & Jogja)



Pameran URUP berlangsung dari 19 Februari - 6 Maret 2022 di Wantilan Uma Seminyak. Menampilkan 14 karya dari 12 pameris yang berlatar belakang kesenian berbeda. Ke 12 pameris ini adalah Andre Yoga (seniman visual), Eka Sudarma Putra (seniman tato), Swoofone (seniman visual), Etalase (crafter), Istanbul (seniman visual), JIMAT x AGHUMI (kolektif musik dan desainer), Kuncir Sathya Viku (seniman visual), SIJI (desainer fesyen), Ni Luh Pangestu (seniman visual), Unceljoy (seniman visual), Venty Vergianti (keramikus).


Ketuk disini untuk mengunduh e-catalog: E-CATALOG PAMERAN URUP



Informasi lebih lanjut terkait karya dan pameran bisa menghubungi:

Ruth Onduko (081239576836)

umaseminyakevent@gmail.com

RECENT POSTS

ARCHIVE